Pentas Reog yang digelar di lapangan Bulukerto, Wonogiri, merupakan salah satu agenda kebudayaan terbesar yang melibatkan partisipasi aktif dari warga SMP Negeri 2 Bulukerto. Lapangan yang luas tersebut berubah menjadi lautan manusia yang antusias menyaksikan kesenian asli daerah ini. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk komitmen bersama dalam melestarikan warisan budaya leluhur.
Bunyi kendang yang bertalu-talu dikombinasikan dengan tiupan selompret yang melengking khas langsung membakar semangat penonton sejak awal acara. Pasukan jathilan yang diperankan oleh para siswi dengan gerakan lincah dan anggun memasuki arena pertunjukan. Kostum mereka yang penuh warna berpadu apik dengan gerakan koreografi yang telah dilatih berbulan-bulan di bawah bimbingan guru seni budaya.
Daya tarik utama muncul saat tokoh Warok dan pembarong yang membawa Dadak Merak raksasa tampil di tengah lapangan. Keahlian para seniman, yang beberapa di antaranya adalah alumni dan siswa sekolah sendiri, dalam mengangkat topeng seberat puluhan kilogram menggunakan kekuatan gigi sangat memukau penonton. Tepuk tangan riuh dan sorak-sorai kekaguman menggema di seluruh sudut lapangan Bulukerto.
Pementasan kolosal ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan massal bagi masyarakat Wonogiri, tetapi juga menjadi media pembelajaran kontekstual yang sangat efektif. Siswa belajar menghargai proses kreatif, kerja tim yang solid, dan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam setiap karakter Reog. Hal ini sangat penting untuk membentengi generasi muda dari gempuran budaya asing.
Ketika pertunjukan berakhir dengan sukses, rasa bangga terpancar jelas di wajah seluruh pendukung acara. Kolaborasi antara pihak sekolah, komite, dan seniman lokal Bulukerto dalam menyukseskan pentas Reog ini mendapat apresiasi tinggi dari berbagai pihak. Kegiatan ini membuktikan bahwa SMP Negeri 2 Bulukerto sangat peduli terhadap gerakan nguri-uri kebudayaan Jawa.